Tuesday, October 26, 2010

BIOGRAFI IBN ARABI

BIOGRAFI IBN ‘ARABĪ
Oleh: Muh Bahrul Ulum

Selengkapnya Download> DISINI

A. Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah Muḥammad Ibn ‘Alī Ibn Muḥammad Ibn ‘Arabī al-Ṭā’ī al-Hātimī. Nama ini dibubuhkan oleh Ibn ‘Arabī dalam Fihrist (katalog karya-karyanya). Orang-orang sezamannya, khususnya Ṣadr al-Dīn al-Qūnawī memanggilnya Abū ‘Abd Allāh. Banyak penulis pada umumnya menyebut dia sebagai Ibn ‘Arabī. Nama singkat ini telah lama dipakai oleh para penulis Barat, sebagian mungkin meniru gaya pengarang Turki dan Iran, namun singkatan ini juga berfungsi untuk membedakan dirinya dengan salah seorang tokoh Andalusia lain yang terkenal, yakni Abū Bakr Muḥammad Ibn ‘Arabī (1076-1148), kepala hakim Sevilla. Kelak Ibn ‘Arabī belajar kepada salah seorang sepupu dari tokoh ini.[i]
Dari nama lengkap tersebut kemudian oleh orang-orang setelahnya terutama yang mengaguminya ia diberi gelar, antara lain : Muḥyi al-Dīn (Penghidup Agama) dan Syaikh al-Akbar (Doktor Maximus). Lalu banyak penulis yang menggabungkan dua gelar itu menjadi : Syaikh al-Akbar Muhyi al-Dīn Ibn ‘Arabī. Dalam banyak penulisan, tokoh ini seringkali hanya disingkat dengan Ibn al-‘Arabī (dengan Al), atau Ibn ‘Arabī saja (tanpa al).[ii]
Ibn ‘Arabī dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H, bertepatan dengan 28 Juli 1165 M, di Murcia, Spanyol bagian tenggara. pada waktu kelahirannya Murcia diperintah oleh Muḥammad Ibn Sa’īd Ibn Mardanīsy.[iii] Sebagai anak pertama dan satu-satunya lelaki, kelahirannya jelas merupakan kebahagiaan besar bagi orang tuanya. Tujuh tahun pertama kehidupannya tampaknya dihabiskan ditengah konflik dan ketegangan lokal. Ayahnya bertugas sebagai tentara Ibn Mardanīsy, penguasa lokal yang mendirikan kerajaan kecil untuk diri sendiri dengann bantuan tentara bayaran Kristen. Dalam tradisi Rodrigo Diaz (El Cid), leluhurnya yang terkenal pada abad ke XI, Ibn Mardanīsy berdiam di Murcia dan Valencia dan oleh orang-orang Kristen dijuluki “Raja Serigala”. Dia beresekutu dengan raja-raja dari Castile dan Aragon dan selama 25 tahun membela kerajaannya melawan kekuatan baru dari al-Muwaḥḥidīn, meskipun kekuasaannya semakin surut ketika Ibn ‘Arabī  lahir.
Dinasti al-Muwaḥḥidīn berasal dari suku-suku Berber dari pegunungan Atlas Maroko, pengikut dari pemimpin keagamaan Ibn Tumart, dan muncul pertama kalinya di tahun 1145. Menjelang tahun 1163 mereka menyerbu Afrika Utara sampai Tripoli. Sepanjang 20 tahun sebelum kelahiran Ibn ‘Arabī, al-Muwaḥḥidīn telah membangkitkan dan merekonsolidasi persatuan muslim di Andalusia, membangun benteng pertahanan untuk melawan gangguan dari orang-orang Kristen di utara. Mereka menjadikan Sevilla sebagai ibukota lokal dan membangun stabilitas di seluruh daerah Afrika Utara.[iv]
Pada tahun 1172 Ibn Mardanīsy wafat, dan berakhirlah perlawanan terhadap kekuasaan al-Muwaḥḥidīn. Ayah Ibn ’Arabī bersama-sama dengan rombongan pengikut Ibn Mardanīsy yang terkemuka, tampaknya mengalihkan kesetiaannya pada Sultan al-Muwaḥḥidīn, Abū Ya’qūb Yūsuf I dan menjadi salah satu penasehat militernya. Pada tahun itu juga semua keluarganya pindah ke Sevilla, pusat kosmopolit yang ramai dan makmur, dan menjadi ibukota kerajaan al-Muwaḥḥidīn di Spanyol. Program-program pembangunan baru yang dibiayai oleh Sultan; seperti memulihkan kembali sistem air Romawi kuno, membuat Sevilla menjadi kota utama di negeri ini. Kota ini menjadi titik temu antara berbagai ras dan kultur di mana penyanyi serta penyair bergaul dengan para filosof dan teolog, dan para wali berdampingan dengan para pendosa. Jadi, sejak usia 7 tahun Ibn ’Arabī tumbuh di lingkungan yang penuh dengan ide-ide penting pada masa itu, ilmu pengetahuan, agam dan filsafat.
Ketika komunikasi massa sebagaimana kita kenal sekarang belum ada, lingkungan semacam ini menjadi unsur penting dalam perkembangan dirinya. Sevilla abad ke XII pada masa Ibn ’Arabī masih muda bisa disamakan dengan gabungan kota London, Paris dan New York di masa sekarang –sebuah campuran yang luar biasa dari berbagai orang, bangunan dan peristiwa.[v]
Sebagian besar dari kehidupan awalnya dihabiskan seperti lazimnya anak-anak muda yang baru tumbuh. Pendidikannya adalah pendidikan standar untuk keluarga muslim yang baik, meskipun tampaknya ia tidak belajar di sekolah resmi, hampir bisa dipastikan ia mendapatkan pelajaran privat di rumah. Dia diajari al-Qur’ān oleh salah seorang tetangganya, Abū  ‘Abdallāh  Muḥammad al-Khayyat, yang kemudian sangat ia cintai dan tetap menjadi sahabat dekatnya selama bertahun-tahun.[vi]
Sejak menetap di Sevilla ketika berusia delapan tahun, Ibn ‘Arabī  memulai pendidikan formalnya. Di kota pusat ilmu pengetahuan itu, di bawah bimbingan sarjana-sarjana terkenal mempelajari al-Qur’ān  dan tafsirnya, Ḥadīṡ, fiqh, Teologi dan Filsafat Skolastik. Sevilla adalah suatu pusat sufisme yang penting pula, dengan sejumlah guru sufi terkemuka yang tinggal di sana.[vii]
Selama menetap di Sevilla, Ibn ’Arabī muda sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika Utara. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mengunjungi para sufi dan sarjana terkemuka. Salah satu kunjungannya yang sangat mengesankan ialah ketika berjumpa dengan Ibn Rusyd (w. 595 H) di Kordova.[viii] Ibn ’Arabī dikirim oleh ayahnya untuk bertemu dengan filosof besar Ibn Rusyd yang berasal dari keluarga yang sangat terpandang di Kordova. Ibn Rusyd, dari semua tokoh abad pertengahan Spanyol, mungkin orang yang paling terkenal di Eropa, sebab ia memperkenalkan kembali karya-karya Aristoteles –astronomi, meteorologi, pengobatan, biologi, etika dan logika– dan ulasan-ulasannya berpengaruh luar biasa terhadap Eropa ketika orang-orang Eropa kemudian menemukan kembali Aristoteles.[ix]
Percakapan Ibn ’Arabī dengan filosof besar ini membuktikan kecemerlangan yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual. Perecakapan tersebut menjelaskan perbedaan dan pertentangan asasi antara jalan akal logis dan jalan imajinasi gnostik. Fakta bahwa sufi muda ini mengalahkan filosof peripatetik itu dalam tukar pikiran tersebut dengan tepat menunjukkan titik buhul pemikiran filosofis dan pengalaman mistik Ibn ’Arabī yang memperlihatkan bagaimana mistisisme dan filsafat berhubungan satu sama lain dalam pemikiran metafisikanya. Pengalaman-pengalaman visioner mistiknya berhubungan erat dan disokong oleh pemikiran filosofisnya yang ketat. Ibn ’Arabī adalah seorang mistikus yang sekaligus seorang guru filsafat peripatetik, sehingga ia bisa memfilsafatkan pengalaman spiritual batinnya secara tepat ke dalam suatu pandangan dunia metafisis yang sangat kompleks.[x]
Pada usia relatif muda, mungkin 16 tahun, Ibn ’Arabī menjalani pengasingan diri (khalwat). Menurut kisah yang ditulis lebih dari 150 tahun setelah wafatnya, diceritakan bahwa Ibn ’Arabī pada suatu ketika mengikuti pesta makan bersama teman-temannya dan sebagaimana kebiasaan di Andalusia, setelah hidangan daging lalu disajikan anggur. Saat dia hendak mulai minum segelas anggur, tiba-tiba dia mendengar seruan, “Wahai Muḥammad, bukan untuk ini engkau diciptakan!” karena ketakutan mendengar suara yang tegas ini, dia lari ke sebuah pemakaman di luar kota Sevilla. Di sana dia menjumpai reruntuhan yang mirip sebuah gua. Selama empat hari ia tetap tinggal di sana sendirian melakukan khalwat, berzikir dan hanya keluar saat shalat.[xi]
Ibn ’Arabī tampaknya di takdirkan untuk mengikuti jejak ayahnya. Ia bertugas dalam pasukan tentara Sultan al-Muwaḥḥidīn selama beberapa waktu dan dijanjikan kedudukan sebagai asisten untuk gubernur Sevilla. Dia sendiri menyebut periode kehidupan ini sebagai periode kejahilan. Periode kejahilan atau kebodohan ini diakhiri oleh pengalaman pencerahan.[xii]
Setelah pertemuannya dengan Ibn Rusyd dan mengalami pencerahan spiritual, pada tahun 580 H (1184 M), Ibn ’Arabī mengundurkan diri dari ketentaraan dan segala urusan duniawi yang dimilikinya. Peristiwa terakhir yang memberinya keputusan bulat adalah saat ia dan panglima al-Muwaḥḥidīn bersama-sama shalat di Masjid Agung Kordova.

Alasan aku menolak dan mengundurkan diri dari ketentaraan dan alasanku untuk menempuh jalan (Tuhan) dan kecenderunganku terhadap jalan itu adalah sebagai berikut: Aku pergi bersama tuanku, Panglima (al-Muwaḥḥidīn) Abū  Bakr Yūsuf bin Abd al-Mu’min bin ‘Alī, menuju ke Masjid Agung Kordova dan aku melihat dia bersimpuh, sujud dengan rendah hati memohon kepada Allah. Kemudian pikiran melintas (khātir) menerpaku (sehingga) aku berkata pada diriku sendiri, “jika penguasa negeri ini begitu pasrah dan sederhana di hadapan Allah, maka dunia ini tidak ada artinya.” Lalu aku meninggallkannya pada hari itu juga dan tidak pernah melihatnya lagi. Sejak itu aku mengikuti jalan ini.[xiii]

Perlu dicatat di sini bahwa masa jahiliyah yang dialami Ibn ‘Arabī tak lain hanyalah sebuah fase ghaflah, fase kealpaan atau “kebingungan”.[xiv] Begitulah, sejak saat itu Ibn ’Arabī mengabdikan diri pada kehidupan dan penghambaan penuh terhadap Allah sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Īsā, Mūsā dan Muḥammad SAW. Ia memutuskan untuk mengambil jalan zuhud dengan meninggalkan seluruh kekayaan duniawinya, di mana ini menjadi titik perubahan penting dalam perjalanan hidup Ibn ‘Arabī: ia telah memilih jalan kemiskinan dan tak akan pernah berpaling lagi darinya. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya salah satu sumber penghidupannya adalah pemberian dan sedekah yang diterimanya dari para sahabat di jalan spiritual dan dari sebagian kerabatnya semasih tinggal di Timur. Baginya hal itu merupakan wujud pengabdian murni (al-‘ubūdiyyah al-mahḍah) yang mengharuskan seorang wali meninggalkan semua hak dan harta yang akan membuatnya tetap ingat akan rububiyyah, ketuhanan.[xv]
Pada beberapa bagian karyanya, Ibn ‘Arabī menyebutkan secara tersurat maupun tersirat upayanya untuk “kemballi kepada Allah”. Di sana, kita dapat secara langsung mencatat pengulangan beberapa istilah kunci: khalwah (“penyendirian”), fath (“pencerahan”), mubasysyirah atau sesekali wāqi’ah (“mimpi”), tawbah (“tobat”) dan rujū’ (“kembali”). Semua istilah tersebut mewakili begitu banyak kepingan asimetris, yang, jika dikumpulkan dan disusun secara koheren, memungkinkan kita membentuk kembali sebuah catatan logis mengenai rentetan fase dalam proses kembalinya Ibn ‘Arabī kepada Allah.[xvi]
        Pada 590 H (1193) ketika pikiran-pikirannya telah mengkristal, ia berkelana mengelilingi Andalusia. Pertama ia menuju kota Murur untuk menemui Syaikh Abū  Muḥammad al-Mawrūrī. Selanjutnya ia meneruskan kelananya ke Kordova dan Granada. Setelah puas menikmati kelananya ke berbagai kota di Andalusia ia ingin menyeberangi laut dan menuju daratan lain. Ia pun pergi ke Bejayah (Bugia) Aljazair untuk mengunjungi Syaikh Abū  Madyān, seorang pendiri aliran tasawuf yang barangkali adalah syaikh paling terkemuka pada zamannya.[xvii] Melalui Abū  Madyān-lah kecenderungan sufi yang khas di Maghrib benar-benar kentara. Berasal dari daerah Sevilla, Abū  Madyān tinggal sementara di Fez. Di sana dia bertemu dengan Abū Abd Allāh al-Daqqāq –seorang sufi aneh yang luar biasa, demikian menurut para penulis hagiografi– yang tampaknya mewariskan khirqah untuknya.[xviii]
Abū  Madyān adalah seorang yang sangat berpengaruh pada diri Ibn ’Arabī. Hal ini terlihat dari kisah-kisah yang ditulisnya sendiri mengenai tokoh-tokoh spiritual pada zamannya.[xix] Meskipun keinginannya untuk bertemu dengan Abū  Madyān secara fisik tidak pernah tercapai –bahkan ajaran Abū  Madyān diperolehnya hanya dari murid-muridnya yang notabene adalah guru-gurunya, seperti al-Mawrūrī , al-Kūmī dan al-Sadrānī– akan tetapi Ibn ’Arabī meyakini bahwa Abū Madyān mengenalnya, bahkan telah menemuinya berkali-kali secara spiritual.[xx] Tokoh inilah yang kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu mata rantai yang menghubungkan Ibn ’Arabī dengan aliran Neoplatonisme.
        Dari Bugia Ibn ’Arabī meneruskan kelananya ke Tunisia. Di sana ia mengkaji karya seorang sufi politisi, Abū  al-Qāsim Ibn Qushay, Khal’an Na’layn (Melepas Kedua Sandal). Tokoh inilah yang terkenal pembelotannya terhadap dinasti al-Murābiṭūn di Andalusia Barat.[xxi] Selain mengkaji karya tersebut, pada tahun yang sama Ibn ’Arabī mengunjungi beberapa murid Abū  Madyān, seperti ‘Abd al-Azīz al-Mahdāwī dan Abū  Muḥammad ‘Abdallāh al-Kinānī. Kepada al-Mahdāwī ia mempelajari karya Ibn Barrajān, yakni Kitāb al-Hikmah.[xxii]
Dituturkan bahwa selama berada di Tunisia, Ibn ’Arabī bertemu dengan Nabi Khiḍir. Pertemuan kemudian terjadi lagi ketika pada akhir 1194 Ibn ’Arabī kembali ke Andalusia. Dengan demikian sebanyak tiga kali telah ditemui oleh Khiḍir dalam tingkatan yang berada secara fisik. Pertemuan pertama berlangsung di daratan, di jalan kota pada siang hari, di mana ia menekankan kepasrahan lahiriah kepada guru duniawi. Pertemuan kedua terjadi di air, sebuah pertemuan pribadi di bawah cahaya bulan purnama. Dan ketiga, Khiḍir memperlihatkan diri di atas udara. Tampaklah bahwa ada tahapan dari ajaran Khiḍir dalam “bahasa yang khusus” untuk menuntun Ibn ’Arabī ke dalam pengetahuan misteri Ilahi dan mendorongnya untuk merenungkan kualitas dari pendidikan tersebut.[xxiii] Sejak saat itu ia memulai aktifitas menulis, menuangkan ilham atau inspirasi yang diterimanya ke dalam tulisan agar bisa dibaca para sahabatnya. Di akhir 1194, setelah kembali ke Andalusia, ia menulis salah satu karya besarnya, Maqāṣid al-Asrār, untuk sahabat-sahabat dari Mahdawī. Pada sekitar tahun yang sama ia menyusun Tadbīrāt al-Ilāhiyyah untuk al-Mawrūrī.
Dalam periode sepuluh tahun sejak pengunduran dirinya dari pemerintahan al-Muwaḥḥidīn dan memasuki jalan rohani, Ibn ’Arabī melakukan perjalanan yang menandai masa instruksi dalam kebijaksanaan kenabian. Ia memulai sebagai Īsāwī, kemudian menjadi Mūsāwī, dan setelah bertemu dengan Hūd dan semua nabi, ia akhirnya sampai pada warisan Muḥammad SAW. Terkadang proses ini berada di bawah bimbingan para guru spiritual, terkadang melalui campur tangan langsung dari para nabi itu sendiri. Ibn ’Arabī dengan jelas melihat seluruh proses perkembangan spiritual dan kewalian dari segi kebijaksanaan khusus dari para nabi dan rasul. Baginya, kebijaksanaan-kebijaksanaan itu tidak lain adalah ekspresi integral dan menyatukan kebijaksanaan Muḥammad. Warisan kenabian ini membentuk basis riil dari semua tulisannya. Ia mulai sebagai pengikut Īsā, menekankan pada penarikan diri, dan kemudian di dalam jalan spiritual Mūsā , saat cahaya wahyu diturunkan. Setelah melalui tempat-tempat wahyu diwakili oleh masing-masing nabi, ia akhirnya sampai pada warisan sempurna dari Muḥammad.[xxiv]
Ketika ayahnya meninggal dunia, lalu disusul ibunya beberapa bulan kemudian, Ibn ’Arabī menerima kenyataan bahwa ia harus merawat kedua saudarinya, yakni Umm Sa’d dan Umm ‘Alā’[xxv], sehingga ia harus meninggalkan kehidupan spiritualnya. Desakan duniawi juga muncul, ketika terjadi ketegangan politik antara al-Muwaḥḥidīn di Sevilla dan Raja Alfonso VIII dari Castile. Ibn ’Arabī mendapat tawaran pekerjaan dalam pasukan pengawal Sultan. Karena teringat ucapan Sāliḥ al-Adawī, Ibn ’Arabī menolak tawaran itu. Kemudian ia meninggalkan Sevilla membawa kedua saudarinya menuju Fez dan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Setelah kedua adiknya mendapatkan suami, tanggungjawab duniawinya selesai dan ia kembali mencurahkan diri pada jalan spiritual.[xxvi]
Fez tampaknya menandai periode kebahagiaan yang luar biasa dalam kehidupannya, di mana ia bisa mengabdikan dirinya secara penuh kepada kegiatan spiritual dan bergaul dengan orang-orang yang sepaham dan memiliki aspirasi yang sama. Dia tidak hanya bertemu dengan para wali yang merupakan pewaris Muḥammad –dia sendiri juga semakin jauh masuk ke dalam warisan ini. Di Masjid al-Azhar di Fez ia memasuki tingkatan baru dari visi di dalam bentuk cahaya –visi cahaya ini adalah sejenis rasa pendahuluan dari perjalanan cahaya yang besar. Di tahun berikutnya, pada usia 33 tahun, Ibn ’Arabī mengalami suatu perjalanan yang luar biasa dari semuanya, yaitu pendakian (mi’rāj) yang mencerminkan perjalanan malam Nabi Muḥammad yang terkenal. Perjalanan ini kemudian tertuang dalam Kitāb al-Isrā’.[xxvii] Perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual ke atas langit –perjalanan yang membawa peziarah melampaui sekat-sekat geografis menuju hadirat Ilahi, “yang berjarak dua busur atau lebih dekat” (Q.S. Al-Najm [53]: 9). Bagi para wali, meneladani Nabi berpuncak dalam “perjalanan malam” ini.[xxviii]
Setelah dianugerahi visi yang paling terang tentang takdirnya, Ibn ’Arabī kembali ke semenanjung Liberia untuk terakhir kalinya pada tahun 1198. Di bulan Desember tahun itu ia berada di Kordova daat pemakaman Ibn Rusyd. Kemudian dari Kordova, bersama sahabat dekatnya al-Habsyi mereka menuju ke Granada dan kembali bertemu dengan ‘Abdallāh  al-Mawrūrī. Pada bulan Januari 1199 di Granada Ibn ’Arabī mendapat visi yang memperkuat makna dari penutup para wali.[xxix] Dari Granada mereka menuju Murcia. Setelah dua tahun berada di negeri kelahirannya ini, mereka pergi ke Marakesy. Pada awal 1201 (597) dari kota ini mereka menuju Bugia lagi, setelah itu berkelana ke Tripoli, Tunisia, Mesir dan kemudian menuju Makkah.[xxx]
Di akhir perjalanan panjangnya dari barat, Ibn ’Arabī akhirnya tiba di Makkah pada pertengahan 1202. Di kota ini namanya mencuat, para tokoh dan ilmuwan pun sering menemuinya. Di antara mereka adalah Abū  Syujā’ al-Imām al-Muwakkil yang mempunyai seorang putri cantik dan cerdas bernama Niẓām. Gadis ini memunculkan inspirasi pada diri Ibn ’Arabī sehingga lahirlah karyanya Tarjumān al-Asywāq.[xxxi]

Ketika aku tinggal di Makkah pada tahun 599 H, di sana aku bertemu dengan banyak pria maupun wanita yang sangat terhormat, beradab, dan saleh. Tak ada satupun di antara mereka yang membangga-banggakan diri sekalipun mereka memiliki berbagai keutamaan dan kemuliaan; orang-orang seperti Abū  Syujā’ Ẓahir bin Rustām bin Abū  Rajā’ al-Isfaḥānī dan saudara perempuannya, binti Rustām, seorang wanita tua alim, seorang teladan cemerlang di kalangan kaum wanita … Syaikh ini mempunyai seorang anak gadis, seorang dara semampai yang memikat perhatian orang yang melihatnya, yang kehadirannya menerangi pertemuan-pertemuan dengan sinar cemerlang, yang memesona dan membuat terkagum-kagum semua orang yang bersama dengannya dan menawan kesadaran semua orang yang memandanginya. Namanya adalah Niẓam (keselarasan) dan nama panggilannya adalah ‘Ain al-Syams (Mata Sang Surya). Dia sangat religius, alim, zuhud, seorang bijak di antara orang-orang bijak di Tanah Suci itu.[xxxii]

Menurut Ibn ’Arabī dalam mukadimah karyanya itu, secara lahiriah karya itu merupakan untaian puisi cintanya kepada gadis rupawan itu, tapi sebenarnya karya itu merupakan ungkapan cintanya kepada Sang Pencipta.[xxxiii]
Selama dua tahun di Makkah (1202 – 1204), Ibn ’Arabī sibuk dalam penulisan. Karya-karyanya pada periode ini adalah: Misykāt al-Anwār, Hilyat al-Abdāl, Rūh al-Quds dan Tāj al-Rasā’il. Namun karyanya yang paling monumental adalah Futuḥāt al-Makkiyyah, yang diklaimnya merupakan hasil pendidikan langsung dari Tuhan. Penulisan kitab yang menjadi masterpiece-nya ini berawal dari peristiwa saat ia bertawaf di Ka’bah, di mana dia bertemu dengan figur pemuda misterius yang memberinya pengetahuan tentang makna esoterik dari al-Qur’ān . Di samping itu, sebuah visi tentang nabi Muḥammad melengkapi perjalanan rohaninya menuju puncak, yakni sebagai penutup kewalian.[xxxiv] Pada periode Makkah ini juga terjadi pertemuan antara dia dengan Syaikh Majd al-Dīn Ishāq bin Yūsuf dari Anatolia (daerah Rum). Syaikh ini adalah seorang tokoh spiritual penting yang menjadi penasehat raja di Istana Seljuk, yang suatu saat nanti akan menjadi ayah dari Ṣadr al-Dīn al-Qūnawī, salah seorang tokoh kunci di antara murid-murid Syaikh al-Akbar.[xxxv]
Pada tahun 1204 (601 H) Ibn ’Arabī meninggalkan Makkah menuju Baghdad dan tinggal selama 12 hari, lalu melanjutkan perjalanan ke Mosul. Selama tinggal di sini ia berhasil menyelesaikan tiga karya, yaitu Tanazzulāt al-Mawṣiliyyah, Kitāb al-Jalāl wa al-Jamāl, dan Kitāb Kunh mā lā budda li al-Murīd Minhu. Dari Mosul, selama tahun 1205 (602 H) mereka (Ibn ’Arabī dan Habasyī) berangkat ke utara melalui Dyarbakir dan Malatya sampai Konya. Pada tahun ini Ibn ’Arabī menyusun Risālat al-Anwār (Risalah Cahaya). Dan untuk pertama kalinya berhubungan dengan Awhad al-Dīn al-Kirmānī, seorang guru spiritual dari Iran. Pada tahun 1206 Ibn ’Arabī menuju ke Yerussalem lalu Hebron (di sini berhasil menulis Kitāb al-Yaqīn) dan menunaikan ibadah haji di Makkah pada bulan Juli 1206. Menjelang 1207 mereka kembali berada di Kairo, berkumpul bersama sahabat lama Ibn ’Arabī dari Andalusia, yaitu al-Khayyāṭ[xxxvi] dan al-Mawrūrī[xxxvii]. 
Akan tetapi sayangnya lingkungan di Kairo tidak simpati pada Ibn ’Arabī, karena ajaran-ajarannya dianggap menyimpang dan dituduh melakukan bid’ah. Mereka merasa tertekan dengan keadaan ini, pada akhir tahun 1207 Ibn ’Arabī kembali ke Makkah untuk melanjutkan belajar Ḥadīṡ dan juga mengunjungi keluarga Abū Syujā’ bin Rustām. Setelah tinggal di Makkah sekitar satu tahun lalu berjalan lagi ke utara menuju Asia kecil. Tiba di Konya pada tahun 1210 (607 H) dan disambut baik oleh penguasa Kay Kaus dan orang-orang di sana.[xxxviii]
Pada tahun 1212 (609 H) Ibn ’Arabī kembali mengunjungi Baghdad. Di sana dia bertemu dengan guru sufi terkenal Syihāb al-Dīn ‘Umar al-Suhrawardī, pengarang kitab ‘Awārif al-Ma’ārif.[xxxix] Pada periode antara 1213 – 1221 Ibn ’Arabī berkelana lagi ke Aleppo,  Makkah, Anatolia, Malatya dan kembali ke Aleppo lagi. Sewaktu tinggal di Malatya Ibn ’Arabī sempat menulis Iṣṭilāḥāt al-Shūfiyyah. Pada tahun 1221 di Aleppo, Majd al-Dīn Ishāq wafat dan Ibn ’Arabī mengambil tugas membesarkan dan mendidik putra Majd al-Dīn, Ṣadr al-Dīn Qūnawī yang saat itu berusia sekitar 7 tahun. Tidak berapa lama kemudian sahabatnya al-Habasyī  juga wafat.[xl]
Pada tahun 1223 (620 H) Ibn ’Arabī menetap di Damaskus hingga akhir hayatnya, kecuali sekedar kunjungan singkat ke Aleppo pada tahun 1231. Perjalanan yang panjang, hasil karya yang luar biasa, kefakiran dan kemiskinan yang menjadi panggilan hidupnya, semua telah menggerogoti kesehatannya. Kini dia amat terkenal dan dihormati di mana-mana. Penguasa Damaskus al-Malik al-‘Adl menawarinya untuk tinggal di istana. Di sini Ibn ’Arabī merampungkan karya besarnya Futuḥāt al-Makkiyyah dan juga Fuṣūṣ al-Hikam sebagai ikhtisar ajaran-ajarannya. Selain itu menyelesaikan puisinya Dīwān al-Akbar.[xli] Adapun Ṣadr al-Dīn al-Qūnawī yang telah dibesarkan dan dididiknya selalu mendampinginya dengan setia, bersama dengan Awhad al-Dīn Kirmānī, sahabat Ibn ’Arabī sekaligus guru Qūnawī.
Ibn ’Arabī wafat di Damaskus pada 16 November 1240 (28 Rabi’ul Tsani 638 H) dalam usia 76 tahun. Qaḍi ketua di Damaskus dan dua orang murid Ibn ’Arabī melakukan upacara pemakamannya.[xlii]
Tentang isteri-isterinya, menurut R.W.J. Austin, yang dapat diketahui ada tiga orang yaitu, Maryam, yang dinikahinya di Sevilla dan disebutnya sebanyak dua kali dalam Futuḥāt al-Makkiyyah II halaman 278 dan III halaman 235. Fāṭimah binti Yūnus bin Yūsuf ; putri seorang syarif di Makkah, ibunda dari Imād al-Dīn (Futuḥāt IV halaman 554). Dan seorang wanita yang tidak diketahui namanya, putri seorang qaḍi ketua Maliki yang dinikahinya di Damaskus (Futuḥāt IV halaman 559). Sedangkan ibunda dari Zainab (anak perempuan Ibn ‘Arabī ) tidak diketahui namanya serta bagaimana nasibnya.[xliii]

B. Corak Pemikiran dan Gaya Ibn ‘Arabī
Secara tipikal Ibn ‘Arabī  diaanggap sebagai seorang sufi. Dan anggapan ini relatif banar jika memahami istilah sufisme untuk menunjuk pada tambatan pemikiran dan praktek Islam yang menekankan pengalaman langsung dari obyek-obyek iman.[xliv] Terlepas dari perbedaan mengenai asal-usul kata yang membentuk artinya –seperti ṣafā (suci) ; ṣaf (penghuni masjid); sophia (hikmah) ; atau ṣūf (bulu domba) – tasawuf mengandung makna yang dalam yang merujuk pada kebersihan batin, mendekatkan diri pada Tuhan, menjauhkan diri dari kesombongan dan ketamakan terhadap daya tarik dunia. Tasawuf secara umum adalah falsafah hidup dan cara tertentu dalam tingkah laku manusia dalam upaya merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman hakikat realitas dan kebahagian rohaniah.[xlv]
Dari sekian pengertian tasawuf (sufisme) di atas adalah benar jika dikatakan bahwa Ibn ‘Arabī  adalah seorang tokoh sufisme. Karena jika kita menyimak kembali riwayat hidupnya, adalah sosok yang memilih jalan ruhani yang penuh kesederhanaan pada saat kenikmatan duniawi mengelilinginya. Harta, jabatan, dan segala kemewahan ditinggalkannya demi mencari kebahagiaan hakiki.
Dalam banyak literatur, Ibn ‘Arabī  memang lebih sering dimasukkan dalam ketegori tokoh sufi atau dalam disiplin bidang tasawuf. Tetapi jika ada yang menyebutnya sebagai seorang filosof – seperti hanya AE. Affifi yang memandang Ibn ‘Arabī  dari sudut pandang filsafat – maka tidaklah mudah untuk menyangkalnya. Hal ini dikarenakan corak pemikirannya yang mensitesakan antara tasawuf dan filsafat.
Dari segi epistemologi, sufisme atau tasawuf adalah hasil dari proses mujāhadah (mengekang hawa nafsu), musyāhadah (pandangan batin) dan intuisi. Sedangkan filsafat adalah hasil dari cara kerja akal (logika) dan argumentasi yang kuat. Keduanya mempunyai obyek yang sama, yakni alam beserta isinya, manusia serta perilakunya dan eksistensi Tuhan. Pemaduan kedua unsur ini, yakni filsafat dan tasawuf menjadi senergi luar biasa yang melahirkan corak berfikir rasional transendental. Inilah yang mewarnai corak pemikiran Ibn ‘Arabi. Hasilnya adalah sebuah sintesa antara perspektif nalar dan spiritual.
Dalam wacana ilmu tasawuf, dibedakan adanya tiga corak atau aliran pemikiran sufisme, yaitu : Tasawuf akhlaki, tasawuf ‘amali dan tasawuf filosofis atau falsafi. Kemudian pembagian tiga corak ini disingkat oleh Prof. H.A. Rivay Siregar menjadi dua aliran yaitu tasawuf sunni (gabungan antara tasawuf akhlaki dan tasawuf amali) dan tasawuf filosofi.[xlvi] Keduanya mempunyai sejumlah kesamaan yang prinsipil di samping perbedaan – perbedaan yang mendasar. Persamaannya adalah bahwa keduanya mengaku bersumber dari al-Qur’ān dan Sunnah dan sama-sama berjalan dalam maqāmāt  dan aḥwāl. Perbedaanya adalah mengenai kedekatan antara sufi dengan Tuhannya. Penganut tasawuf sunni mengatakan bahwa sedekat apapun antara seorang manusia dengan Tuhannya tidak mungkin jumbuh karena tidak satu esensi. Sedangkan penganut tasawuf filosofis mengatakan bahwa manusia berpadu dengan  Tuhan karena manusia tercipta dari esensi-Nya. Selain itu perbedaan bersumber dari perbedaan instrumen yang digunakan dalam memcahkan persoalan. Di satu pihak, tasawuf sunni cukup menggunakan dalil-dalil naql dari ajaran Islam, cenderung ortodoks dan sederhana dalam pemikiran. Di lain pihak tasawuf filosofis sangat gemar terhadap ide-ide spekulatif dengan menggunakan analisis filsafat yang mereka kuasai, baik filsafat Timur maupun Barat.[xlvii]
Cikal bakal kemunculan dua aliran dalam tasawuf ini, terjadi pada abad ketiga dan keempat Hijriah. Pada saat itu muncul dua aliran dalam tradisi asketisme. Aliran pertama melandaskan diri pada al-Qur’ān dan sunnah dan memegang tradisi kalām dan fiqh dengan kuat. Aliran inilah yang menjadi pangkal munculnya tasawuf sunni. Aliran kedua adalah aliran yang selain berprisip pada al-Qur’ān dan sunnah juga pada tradisi di luar Islam yang cenderung pada hal-hal yang metafisis yang disebut union mystica. Aliran ini sering menunjukkan keganjilan (syaṭaḥāt) sehingga menimbulkan pertentangan dan dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Aliran inilah yang menjadi awal munculnya tasawuf filosofis.
Kemudian pada abad kelima Hijriah, aliran sunni mengalami masa kejayaan di tangan Abū al-Ḥasan al-Asy’ārī (w. 324 H) dengan teologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan mengeritik keras terhadap keekstriman tokoh sufi seprti Abū Yazīd al-Bisṭāmī dan al-Hallāj, yang ungkapan-ungkapannya terkenal ganjil. Pada abad kelima Hijriah ini tasawuf aliran filosofis tenggelam dan baru muncul kembali dalam bentuk lain, yaitu pada pribadi para sufi yang juga filosof pada abad keenam Hijriah dan setelahnya.[xlviii] Mulai saat itulah tasawuf filosofis berkembang lagi dan sampai pada puncaknya, aliran ini melahirkan sesosok sufi filosofis yang menggemparkan pada abad-abad berikutnya yakni Syaikh al-Akbar Ibn al-‘Arabi. Bahkan sampai saat ini terus menjadi bahan kajian yang aktual.
Umumnya para sufi filosofis begitu gigih mengompromikan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar Islam ke dalam ajaran mereka, serta menggunakan terminologi-terminologi filsafat, tetapi maknanya telah disesuaikan dengan ajaran tasawuf mereka. Para sufi yang juga filosof ini mengenal dengan baik filsafat Yunani seperti pemikiran-pemikiran Socrates, Plato dan aliran Stoa (didirikan oleh Zeno), serta aliran Neoplatonisme dengan filsafatnya tentang emanasi. Selain itu mereka juga mempelajari filsafat-filsafat Timur kuno, baik dari Persia maupun India, serta menelaah karya-karya filofos Islam, seperti al-Fārābī, Ibn Sīnā dan lain-lain.[xlix] Begitu pula yang dilakukan Ibn ‘Arabī .
Dengan begitu dapat dikatakan bahwa pemikiran Ibn ‘Arabī  dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni tasawuf dan filsafat, meskipun tidak secara murni. Jika dalam membahasnya kita menggunakan kacamata tasawuf, maka pemikirannya dapat dikategorikan sebagai tasawuf filosofis. Jika menggunakan kacamata filsafat, maka pemikirannya dikategorikan filsafat mistis.
Kita dapat melihat dari segi tasawuf karena ia menjalani laku kehidupan rohani seperti sufi pada umumnya dan kehidupannya dipenuhi pengalaman spriritual yang agung dan secara epistemologis ia mendapatkan pengetahuan dari intuisi, kasyf (penyingkapan) dan żauq (rasa). Sedangkan dari sudut pandang filsafat, Ibn ‘Arabī  dapat disebut seorang filosof, karena selain dia faham betul dengan teori-teori filsafat dari berbagai unsur sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa filsafat, tetapi juga pemikirannya menambah pada obyek-obyek kajian filsafat, yaitu problem metafisika.
Menurut A.E. Affifi, secara keseluruhan Ibn ‘Arabī  dapat digambarkan sebagai filosof bertipe tidak beraturan dan eklektik. Ia mengatakan bahwa gaya Ibn ‘Arabī  yang ambiguity (mendua) disebabkan paling tidak oleh tiga hal, yaitu: pertama Ibn ‘Arabī  menggunakan istilah-istilah yang diambilnya dari berbagai sumber, seperti The Good-nya Plato, The One-nya plotinus, Substansi Universal-nya Asy’ārī dan Allāh-nya Islam. Kadang-kadang ia menggunakan satu kata untuk beberapa makna, misalnya kakikat, diartikan sebagai realitas, kadang esensi, kadang suatu idea atau suatu ciri. Yang kedua, bahwa Ibn ‘Arabī  selalu berusaha merekonsiliasikan dogma-dogma ortodoks Islam dengan pemikiran panteistik. Dan yang ketiga, ia menggunakan bahasa yang puitis dan fantastis sehingga mengaburkan pemikiran yang logis dan ketat.[l]
Siapapun tidak menyangkal bahwa memahami pemikiran Ibn ‘Arabī  bukanlah hal yang mudah. Meskipun karya-karyanya yang berjumlah ratusan dapat memberikan gambaran yang utuh buah pemikirannya, tetapi ungkapan-ungkapan yang digunakan bersifat simbolis dan mengandung makna yang begitu dalam sehingga sulit dimengerti oleh orang-orang yang mempelajarinya. Tidak mengherankan jika pada suatu waktu di musim dingin di parlemen Mesir terjadi perdebatan seru di tengah para tokoh pemikir, mengenai boleh tidaknya salah satu karya Ibn ‘Arabī  diterbitkan secara bebas. Sebagian berpendapat boleh, sebagian melarangnya karena dikhawatirkan menyesatkan pembacanya.[li] Memang diperlukan sikap kritis dan ekstra hati-hati karena pembahasannya merambah hal-hal yang sangat fundamental dalam pemikiran, yaitu spekulasi tentang hakikat segala realitas. Itulah mengapa karya-karyanya cenderung dicurigai dan dianggap membahayakan keimanan, terutama dikalangan sunni yang notabene dianut oleh mayoritas umat Islam.
Namun lain halnya bagi sejumlah sarjana, yang sebagian berasal dari kalangan Syi’ah dan sebagian dari luar Islam. Mereka memiliki sikap yang lebih apresiatif terhadap konsep-konsep tasawuf filosofis, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn ‘Arabī . Hal ini antara lain disebabkan karena pandangan para sufi dianggap lebih liberal dan mengandung pesan universal bagi bentuk agama apapun, sehingga adanya keragaman di dunia ini tidak menjadi halangan untuk terjalinnya harmoni kehidupan, karena hanya ada satu realitas yang mendasarinya.

C. Karya-karya Ibn ‘Arabī
Dalam catatan sejarah  pemikiran umat Islam, Ibn ‘Arabī  adalah yang memberi konstribusi besar terhadap trasisi intelektual secara tertulis. Separuh akhir dari kehidupannya telah menghasilkan ratusan karya yang mempunyai nilai sastra, intelektual dan spiritual yang tidak ternilai harganya. Memang ia adalah pemikir yang paling tinggi tingkat produktifitasnya dibanding pemikir lain. Namun sampai saat ini belum ada jumlah pasti yang disepakati para peneliti atas karya-karya Ibn ‘Arabī. Berbagai angka telah disebukan oleh para sarjana. Louis Massingnon, seorang orientalis Perancis, mengemukakan bahwa Ibn ‘Arabī  menulis sekitas 300 karya. Sementara C. Brockelman mencatat tidak kurang dari 239 karya. Osman Yahya, dalam karya bibliografinya yang berbahasa Perancis, menyebutkan 846 judul dan menyimpulkan bahwa hanya sekitar 700 yang asli dan hanya 400 yang masih ada. Ibn ‘Arabī  sendiri dalam Ijāzah li al-Malik al-Muzaffar menyebutkan ada 289 judul.[lii]
Menurut S.H. Nashr, karya-karya Ibn ‘Arabī  beragam ukuran dan isinya: dari uraian-uraian pendek dan surat-surat yang hanya terdiri dari beberapa halaman sampai karya ensiklopedik besar; dari risalah metafisika yang abstrak sampai puisi-puisi sufi yang mengandung aspek kesadaran ma’rifah yang muncul dalam bahasa cinta. Karya-karya itu mencakup persoalan metafisika, kosmologi, pesikologi, penafsiran terhadap al-Qur’an dan semuanya bertujuan menjelaskan makna-makna esoterik.[liii]
Menurut Stephen Hirtenstein, Ibn ‘Arabī  menulis tidak kurang dari 350 buku. Karya-karya utamanya disebutkan sebanyak 30 buah, termasuk di dalamnya –masterpieceFutuḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Hikam.[liv]
Futuḥāt al-Makkiyyah adalah karya Ibn ‘Arabī  yang menjadi perbedebatan di parlemen Mesir. Di dalamnya berisi tentang kehidupan spiritual para sufi beserta ajaran-ajarannya, prinsip-prinsip metafisika, dan ilmu-ilmu keagamaan seperti tafsīr al-Qur’ān, Ḥadīṡ dan fiqh. Menurut pengakuan Ibn ‘Arabī , karya ini merupakan hasil pendiktean dari Tuhan melalui malaikat-Nya. Mulai disusun di Makkah pada tahun 1202 (598 H) setelah Ibn ‘Arabī  menerima visi tentang pemuda dan selesai pada tahun 1231 (629 H) untuk versi pertama, dan pada tahun 1238 (636 H) untuk versi kedua. Dalam edisi lama kitab ini setebal 2.580 halaman. Dan atas prakarsa Departemen Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Mesir diterbitkan kembali sebanyak 18.000 halaman/37 volume dalam 4 jilid dengan pen-taḥqīq Osman Yahia dan disunting oleh Ibrahim Madkour.[lv]
Karya monumental kedua adalah Fuṣūṣ al-Hikam (Untaian Permata Kebijaksanaan). Diakui oleh Ibn ‘Arabī, karya ini ditulis berdasarkan perintah Nabi SAW untuk diajarkan pada umat manusia. Terdiri dari 27 bab, setiap bab mengajarkan tentang kebijaksanaan yang dimiliki setiap Nabi, dimulai dari Nabi Adam dan ditutup dengan Nabi Muḥammad. Secara keseluruhan kitab ini mempresentasikan kebijaksanaan umat yang berbeda-beda menuju kebijaksanaan universal yang dicakup oleh kenabian Muḥammad. Karya ini dianggap sebagai intisari dari ajaran Ibn ‘Arabī , yang ditulis pada tahun 1229 (627 H) di Damaskus, sekitar 10 tahun sebelum ia wafat.[lvi] Selain dua karya utama tersebut, berikut adalah karya-karyanya yang terhimpun dalam beberapa kategori. Karya yang berisi tentang metafisika dan kosmologi ada tiga buah, yaitu Insyā’ al-Dawā’ir, Uqlah al-Mustawfiẓ dan Tadbīrāt al-Ilāhiyyah.
Suatu kumpulan karya Ibn ‘Arabī  yang berisi tentang pengalaman-pengalaman spiritual dan petunjuk-petunjuk abstrak maupun praktis bagi penempuh jalan ruhani, tergabung dalam Rasā’il Ibn al-‘Arabī. Diantaranya adalah kitab-kitab sebagai berikut:[lvii]

1.    Kitāb al-Isrā’ (Perjalanan Malam). Ditulis pada tahun 1198 (594 H), menggambarkan pendakian mistik dan pertemuan dengan realitas spiritual nabi di tujuh lapis langit.
2.    Ḥilyat al-Abdāl (Perhiasan Para Pengganti). Ditulis pada tahun 1203 (599 H) di Thaif. Mengajarkan empat penopang jalan yaitu : penyendirian, diam, lapar dan terjaga.
3.    Risālat al-Anwār (Risalah Cahaya-cahaya). Ditulis pada tahun 1205 (602 H) di Konya untuk memenuhi permintaan seorang sahabat. Mendeskripsikan persoalan-persoalan spiritual mengenai pendakian non-stop melalui berbagai tingkatan menuju kesempurnaan manusia.
4.    Kitāb al-Fanā’ fī al-Musyāhadah. Ditulis di Baghdad pada tahun 1212 (608 H). merupakan pemikiran mendalam atas surat ke 98. Mendeskripsikan pengalaman visi mistik.
5.    Iṣṭilāhāt al-Ṣūfiyyah. Ditulis pada tahun 1218 (615 H) di Maltya. Terdiri dari 199 definisi singkat dari ekspresi penting yang lazim digunakan di antara hamba-hamba Allah.
6.    Karya-karya mengenai biografi para sufi yang didup di zamannya adalah Rūḥ al-Quds (Ruh-ruh Suci) dan Al-Durrah al-Fākhirah. Kedua kitab ini diterjemahkan dalam satu buku oleh R.W.J Austin dan diberi judul Sufis of Andalusia.
7.    Tarjumān al-Asywāq adalah karya Ibn ‘Arabī  yang mengundang penafsiran negarif tentangnya, karena dianggap sebagai ekspresi dari cinta nafsu yang dipersembahkan untuk Niẓam. Tetapi kemudian sebagai pembelaan bahwa itu merupakan ekspresi cinta terhadap Tuhan, Ibn ‘Arabī  menulis Dzakhā’ir al-‘Alaq.
8.    Kitāb al-Alīf, Kitāb al-Bā’, Kitāb al-Yā’, adalah seni karya-karya ringkas, menggunakan sistem penomoran alfabetis. Dimulai di Yerusalem tahun 1204 (602 H), seri kitab ini membahas prinsip-prinsip Ilahiyah yang berbeda-beda seperti: ketunggalan (Aḥadiyyah), kasih (Raḥmān) dan cahaya (Nūr).
9.    Fihrist al-Mu’allafah adalah katalog karya tulis yang dibuat Ibn ‘Arabī sendiri untuk karya-karyanya yang memuat 248 karya. Ditulis pada tahun 1229/1230 (627 H) di Damaskus untuk muridnya Ṣadr al-Dīn al Qūnawī.

Selain karya-karya di atas, Ibn ‘Arabī  memiliki berbagai karya lain yang akan terlalu panjang untuk dituliskan semua. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

-         Maṣādiq al-Asrār al-Qudsiyyah (Kontemplasi Misteri Kudus)
-         Anqa’ Mughrib (Burung Anqa’ di Barat)
-         Misykāt al-Anwār (Relung Cahaya)
-         Mawāqi’ al-Nujūm (Letak Bintang-bintang)
-         Taj al-Rasā’il (Mahkota Risalah-risalah)
-         Kitāb Jalāl wa al-Jamāl (Kitab Keagungan dan Keindahan)
-         Kitāb Tajalliyāt (Kitab Teofani), dan
-         Awrād al-Usbū’ (Do’a untuk Seminggu). []



[i] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.43
[ii] Secara konsisten penulis akan menggunakan sebutan Ibn ‘Arabī  saja, dengan alasan sebutan ini banyak dipakai dan mudah dalam ejaan.
[iii] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm.17
[iv] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 44
[v] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 47
[vi] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.51
[vii] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm.18
[viii] ibid.
[ix] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 74
[x] Lihat: Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 18
[xi] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 67
[xii] ibid., hlm. 52
[xiii] ibid., hlm. 67
[xiv] Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm.57
[xv] ibid., hlm.69
[xvi] Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm..59
[xvii] A. Rofi’ Usmani, Tokoh-tokoh Muslim Pengukir Zaman (Bandung: Penerbit Pustaka, 1998), hlm.30
[xviii] Claude Addas, op.cit., hlm.95
[xix] Karya Ibn ’Arabī mengenai kehidupan dan ajaran para sufi sezamannya adalah Ruh al-Quds dan Al-Durrah al-Fakhirah. Nama Madyān disebut berkali-kali dalam Ruh al-Quds.
[xx] Lihat: R.W.J. Austin, Sufi-sufi Andalusia, diterjemahkan dari Ruh al-Quds dan Al-Durrah al-Fakhirah, terj. MS. Nasrullah (Bandung: Mizan, 1994), hlm.148-149
[xxi] A. Rofi’ Usmani, Tokoh-tokoh Muslim Pengukir Zaman (Bandung: Penerbit Pustaka, 1998), hlm.30
[xxii] Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm.89
[xxiii] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.118. Selengkapnya Ibn ’Arabī mengabadikan Khiḍir dalam Futuhat bab 25, tentang pengetahuan orang-orang terpilih dan dianugerahi panjang umur.
[xxiv] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.120
[xxv] Lihat: Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm.131; Perlu ditambahkan di sini bahwa Ibn ’Arabī tidak memiliki saudara laki-laki dan ia sangat menyayangi kedua saudarinya ini.
[xxvi] Stephen Hirtenstein, op.cit., hlm.142-143
[xxvii] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.148-149
[xxviii] Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm.223-224
[xxix] Stephen Hirtenstein, op.cit, hlm.161
[xxx] A. Rofi’ Usmani, Tokoh-tokoh Muslim Pengukir Zaman (Bandung: Penerbit Pustaka, 1998), hlm.30
[xxxi] A. Rofi’ Usmani, Tokoh-tokoh Muslim Pengukir Zaman (Bandung: Penerbit Pustaka, 1998), hlm. 31
[xxxii] Ibn ’Arabī, Turjuman al-Asywaq, Beirut 1961. Dikutip dari RW. J. Austin dalam Sufi-sufi Andalusia, terj. MS. Nasrulloh (Bandung: Mizan, 1994), hlm.38 – 39
[xxxiii] A. Rofi’ Usmani, op.cit., hlm.30
[xxxiv] Peristiwa selengkapnya dapat dilihat pada: Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 198 – 202.
[xxxv] ibid., hlm.205
[xxxvi] Lihat: Claude Addas, Mencari Belerang Merah, terj. Zaimul Am (Jakarta: Serambi, 2004), hlm.54; al-Khayyāṭ sendiri sekaligus juga adalah guru al-Qur’ān Ibn ’Arabī sewaktu masih kecil. Mereka berdua adalah tetangga dekat).
[xxxvii] RW. J. Austin dalam Sufi-sufi Andalusia, terj. MS. Nasrulloh (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 234 – 236
[xxxviii] ibid., hlm. 43
[xxxix] ibid., hlm. 46
[xl] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm. 249
[xli] RW. J. Austin dalam Sufi-sufi Andalusia, terj. MS. Nasrulloh (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 50 – 51
[xlii] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 24
[xliii] RW. J. Austin dalam Sufi-sufi Andalusia, terj. MS. Nasrulloh (Bandung: Mizan, 1994), hlm.50-51
[xliv] Willian C. Chittick, Dunia Imajinal Ibn ‘Arabī; Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas Agama, terj. Ahmad Shahid (Surabaya : Risalah Gusti, 2001), hlm. 4
[xlv] Abu  al Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi’ Usmani (Bandung : Penerbit Pustaka, 1997) hlm. 1
[xlvi] H.A Rivay Siregar, Tasawuf : Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme (Jakarta : Rajawali Press, 1999) hlm. 55
[xlvii] H.A Rivay Siregar, Tasawuf : Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme (Jakarta : Rajawali Press, 1999) hlm. 56
[xlviii] Abu  al Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi’ Usmani (Bandung : Penerbit Pustaka, 1997) hlm. 140
[xlix] ibid., hlm. 188
[l] A.E. Affifi, Filsafat Ibn ‘Arabī , terj. Sjahrir Mawi dan Nandi. R (Jakarta : GMP, 1995), hlm. 6
[li] A. Rofi’ Usmani, Tokoh-tokoh Muslim Pengukir Zaman (Bandung: Penerbit Pustaka, 1998), hlm.29
[lii] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm.25
[liii] Seyyed Hossein Nashr, Three Muslim Sages (Delmar, New York : Carava Books, 1976), hlm. 97
[liv] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.353-360
[lv] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 25
[lvi] Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm.25
[lvii] Semua kitab yang disebut dikutip dari Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud; Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī , terj. Tri Wibowo (Jakarta: Muria Kencana, 2001), hlm.353-360

No comments: