Thursday, November 4, 2010

KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Selengkapnya Click DISINI

MBS merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat dengan pemberian otonomi pendidikan yang luas pada sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan secara umum. Tujuan utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan.[1]
Sedangkan implementasi MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisiensikan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih. MBS memberi peluang bagi kepala sekolah, guru, dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya.
MBS yang ditawarkan sebagai bentuk operasional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal ini penting agar inovasi yang ditawarkan tidak sebatas konsep, tetapi benar-benar dapat dialksanakan dengan baik.

A.   Definisi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Ø      Manajemen
Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sentralistik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sedangkan istilah MBS (school-based management) merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana sesuai dengan kebutuhannya. Pada sistem MBS, sekolah dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.[2]
Ø      Berbasis
Dalam kamus ilmiah, basis diartikan dengan dasar, pokok, atau pangkalan.[3] Kemudian jika kita kaitkan dengan MBS, basis adalah manajemen yang dikelola berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri. atau manajemen yang memang di sesuaikan dengan kemampuan sekolah tersebut.
Ø      Sekolah
Sekolah adalah lembaga belajar dan mengajar sera tempat menerima dan memberi pelajaran.[4] Sekolah adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai, tata usaha, dan murid-murid.
Definisi lain menyebutkan bahwa sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
Sebenarnya sekolah disini merupakan konsep yang luas, yang bisa mencakup semua aspek lembaga, baik lembaga formal maupun lembaga pendidikan non formal. Jadi, bukan hanya lembaga formal saja yang bisa dikatakan sekolah. Akan tetapi, lembaga pendidikan yang non formal juga bisa disebut sekolah. Karena sekolah pada hakekatnya adalah tempat seseorang menuntut ilmu. Jadi, dimanapun tempat orang itu menuntut ilmu, maka disanalah ia bersekolah.
Ø      Manajemen berbasis sekolah
Manajemen berbasis sekolah adalah hasil terjemahan dari kata school based management.[5] MBS merupakan suatu pemikiran yang baru dalam pendidikan, yang Memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi tersebut diberikan karena bertujuan agar sekolah mempunyai keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.
Pada system MBS, sekolah tersebut dituntut untuk bisa mandiri dalam menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.
Jadi, MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang memberikan sebuah penawaran kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik.[6]

B.   Alasan dan Tujuan Diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS yang ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respon pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, yang mana bertujuan untuk meningkatkan efesiensi, mutu, dan pemeratan pendidikan. Peningkatan efesiensi antara lain; diperoleh melalui keleluasaan mengolah sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibel pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, berlakunya sistem insentif serta disensetif. Peningkatan pemerataan dapat diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan kerena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.[7]
Tujuan penerapan MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kapendidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan pula.[8]
Dengan adanya penerapan MBS ini telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal untuk terjun kedalam masyarakat luas di masa mendatang di banding  di masa lalu. Oleh karena itu palayanan kepada siswa, program pengajaran dan jasa yang diberikan kepada siswa juga harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara umum perubahan lingkungan menuntut adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru oleh semua pihak.
Ada keuntungan dari adanya penerapan model MBS ini antara lain;
a.    Secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah.
b.    Meningkatkan moral, moral guru harus meningkatkan karena  adanya komitmen dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah.
c.     Keputusan yang diambil oleh sekolah memiliki akuntabilitas. Hal ini terjadi karena kostituen sekolah memiliki andil yang cukup dalam setiap pengambilan keputusan.
d.    Menyesuaikan sumber daya  keuangan terhadap tujuan instruksional yang dikembangkan di sekolah. Keputusan yang di ambil pada tingkat sekolah yang akan lebih rasional karena mereka tahu kekuatan sendiri, terutama kekuatan keunganan.
e.    Menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Pengambilan keputusan ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpi.
f.      Meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksibelitas komunikasi sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. Kebersamaan dalam pemecahan masalah di sekolah telah memperlancar alur komunikasi di antar warga sekolah.[9]

C.   Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS)
1.    Memberikan kebebasan  dan kekuasan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang di berikan memberikan tanggug jawab penegelolaan sumber daya dan pembegian strategi MBS sesuai dengan kondisi setempat.
2.    Sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih bekonsentrasi pada tugas.
3.    Keleluasan dalam mengelolah sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepada sekolah, dalam perannya sebagai manager maupun pemimpin sekolah.
4.    Dengan diberikan sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperimen-eksperementasi di lingkungan sekolahnya, ini mendorong profesonalisme guru dan juga kepala sekolah sesuai fungsinya.
5.    Melalui penyusunan kurikulum efektif, rasa tangkap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkatkan dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sekolah.
6.    Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua, seperti orang tua dapat mengawasi langsung proses belajar anaknya.[10]

D.   Ciri-ciri/ Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

1.    Kewajiban sekolah mampu transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, pemerintah.
2.    Kebijakan dan perioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pandidikan nasional berhak memutuskan kebijakan yang menjadi parioritas nasional, (program buta huruf dan angka, efesiensi, mutu, dan pemeritah pandidikan)
3.    Peranan, partisipasi,orang tua dan masyarakat
4.    Peranan profesioanalisme dan manajerial, khususnya tingkah laku guru  dan kepala sekolah
5.    Pengembangan profesi tenaga kependidikan.
Adapun karakterstik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi[11]

KESIMPULAN
Manajemen berbasis sekolah adalah hasil terjemahan dari kata school based management. MBS merupakan suatu pemikiran yang baru dalam pendidikan, yang Memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi tersebut diberikan karena bertujuan agar sekolah mempunyai keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.
Tujuan penerapan MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kapendidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan pula.
Adapun karakterstik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi[12]


DAFTAR PUSTAKA

Ø      Prof. Dr. Suhaesimi arikunto dan Lia Yuliana, manajemen Pendidikan, Yogyakarta, Aditia Media Yogyakarta. 2008.
Ø      Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, Surabaya, Arkola,1994
Ø      Yin Cheong Cheng, School Effectiveness&School-Based Manajement: A Mechanism For Development, Wsingthon D.C: the falmer press,1996
Ø      Drs. Nur kholis, M.M, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori,Model,Dan Aplikasi,Jakarta,PT. Garasindo. 2003.
Ø      Dr. E. Mulyasa M.Pd, manajemen berbasis sekolah, konsep, strategi, dan implementasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. 2005.




[1] Dr. E. Mulyasa, M.Pd, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi, Dan Implementasi, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. 2005), hlm.24.
[2]. Prof. Dr. Suhaesimi arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, Yogyakarta, (Aditia Media Yogyakarta. 2008)
[3] Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya, Arkola,1994), hlm.68.
[4] Yin Cheong CheJng, School Effectiveness&School-Based Manajement: A Mechanism For Development, Wasingthon D.C: the falmer press,1996: Hlm. 43
[5] Op.Cit. Hlm. 24
[6] Ibid. Hlm. 24
[7]  Ibid, Hlm. 25
[8] Op.Cit. Hlm. 24 
[9]. Drs. Nur kholis, M.M, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori,Model,Dan Aplikasi,Jakarta,PT. Garasindo. 2003. hlm.26
[10]. Ibid. hlm.25
[11] . Ibid. hlm.29.

No comments: